Integrating AI Segmentation, Simulated Digital Twins, and Extended Reality into Medical Education: A Narrative Technical Review and Proof-of-Concept Case Study. Journal of Personalized Medicine, 16(4), 202.
https://doi.org/10.3390/jpm16040202Pencitraan medis telah lama terbatas pada tampilan dua dimensi berbasis irisan. CT dan MRI memberikan data yang sangat rinci, tetapi interpretasinya membutuhkan pengalaman, waktu, dan rekonstruksi spasial mental oleh ahli bedah. Kemajuan terbaru dalam AI secara mendasar mengubah proses ini.
Segmentasi AI secara signifikan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan data pencitraan. Apa yang sebelumnya memerlukan pemrosesan manual yang luas kini dapat dihasilkan secara otomatis. Struktur anatomi seperti organ, pembuluh, dan area yang diminati diidentifikasi dan dipisahkan langsung dari dataset CT dan MRI dalam hitungan detik, menghasilkan data yang terstruktur dan siap digunakan tanpa upaya manual.
Menampilkan contoh dari pelajaran yang direkam di mana peserta didik berada dalam bidang pandang langsung instruktur, melihat model skoliosis 3D yang dirender bersama gambar anatomi skoliosis dari X-ray secara berdampingan. Tangan berwarna magenta dalam gambar mewakili instruktur yang direkam sedang menggambar pada aset digital selama pelajaran diputar.
Dataset yang telah disegmentasi ini menjadi dasar bagi digital twin, yaitu model 3D spesifik pasien yang merepresentasikan anatomi nyata. Alih-alih menafsirkan potongan gambar satu per satu, tenaga medis dan mahasiswa dapat berinteraksi dengan struktur anatomi lengkap dalam ruang, meningkatkan pemahaman spasial dan mengurangi beban kognitif.
Seiring segmentasi AI mengotomatiskan pembuatan model, pembuatan digital twin menjadi skalabel, memungkinkan adopsi yang lebih luas di program pendidikan dan institusi.
Digital twin secara mendasar mengubah cara data medis digunakan dan dibagikan. Hubungan anatomi yang kompleks menjadi terlihat secara langsung, dan patologi dapat diisolasi serta dieksplorasi dalam konteks spasialnya secara penuh.
Alih-alih menjelaskan temuan secara verbal atau mengandalkan representasi 2D, klinisi dan mahasiswa dapat meninjau dataset yang sama bersama-sama dalam lingkungan imersif bersama. Banyak pengguna dapat mengakses dan berinteraksi dengan model secara real-time dari perspektif masing-masing, memungkinkan kolaborasi yang lebih efektif dan keselarasan lintas disiplin.
Dalam kasus ini, instruktur menggunakan toolset RecordXR dari Medicalholodeck untuk merekam sesi pembelajaran terpandu dalam lingkungan VR. Sesi tersebut mencakup identifikasi landmark tulang belakang, teknik akses neuraksial, dan anotasi 3D anatomi patologis pada pasien dengan skoliosis berat.
Berbeda dengan pembelajaran video 2D tradisional, modul berbasis XR ini mempertahankan pemahaman spasial dan panduan ahli langsung dalam konteks anatomi. Penjelasan, gestur, dan interaksi instruktur tetap terhubung dengan data 3D, menciptakan pengalaman belajar yang lebih intuitif dan menarik.
Peserta didik dapat meninjau ulang sesi kapan saja, memutar ulang langkah tertentu, atau berinteraksi dengan model untuk memperkuat pemahaman. Perekaman konten dalam VR memungkinkan pendidik membangun perpustakaan terstruktur berisi kasus, simulasi, dan materi pembelajaran yang dapat diakses, diulang, dan diskalakan.
Pendekatan ini tidak hanya mempertahankan informasi visual, tetapi juga penalaran ahli, sehingga pengetahuan prosedural yang kompleks dapat direproduksi dan diakses secara luas.
Menunjukkan bahwa peserta didik dapat melihat pelajaran RXR dari berbagai sudut di luar sudut pandang instruktur saat perekaman. Kacamata dan tangan berwarna magenta mewakili representasi instruktur yang divisualisasikan untuk peserta didik. Instruktur menunjukkan kemiringan prosesus spinosus pada model skoliosis untuk memberikan wawasan tentang anatomi patologis.
Selain dalam pendidikan, alur kerja yang sama dapat langsung diterapkan dalam praktik klinis. Kombinasi segmentasi AI, digital twin, perekaman, dan XR memungkinkan perencanaan praoperasi, kolaborasi lintas disiplin, dan simulasi spesifik pasien dalam satu lingkungan terpadu.
Kontinuitas antara pembelajaran dan aplikasi klinis ini mengurangi kompleksitas dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat, menjembatani kesenjangan antara pelatihan dan praktik nyata.
Dengan mengubah gambar medis menjadi data 3D terstruktur dan mengembangkannya menjadi digital twin dinamis, AI memungkinkan bentuk pembelajaran baru yang imersif, personal, dan terhubung langsung dengan praktik klinis.
Dikombinasikan dengan XR, pendekatan ini mengubah pendidikan menjadi pengalaman spasial dan interaktif, mempersiapkan generasi klinisi berikutnya untuk masa depan yang semakin berbasis data dan simulasi.